Kawan coba renungkan apa yang telah terjadi pada alam kita ini. Apa yang telah kita perbuat pada mereka,namun inilah kenyataan yang harus kita hadapi. Kita takmungkin hanya tinggal diam melihat sekaratnya alam sekitar kita.
Akhir-akhir ini banyak berita di media massa mengenai bencana-bencana yang terjadi di berbagai belahan dunia, terutama di Indonesia. Ya, bencana alam. Itulah topik yang seringkali menghiasi layar kaca. Di indonesia sendiri hampir seluruh wilayahnya dilanda banjir. Banjir terjadi di Aceh, Sumatra Utara, Kalimantan Tengah, Sulawesi Barat, bandung, dan di Jakarta, ibu kota Republik Indonesia.
Bahkan banjir di Mamasa, Sulewesi Barat sempat menewaskan 15 orang. Entah berapa jumlah korban jiwa dan materi yang terjadi di daerah lain, tetapi yang pasti kedatangan banjir jelas merugikan dan membawa dampak yang tidak sedikit bagi manusia dan lingkungan. Belum lagi jika terjadi tanah longsor. Kawan yang seringkali menyertai kedatangan banjir itu biasanya tiba saat hujan deras melanda atau bahkan sesudahnya. Longsor dapat menyebabkan ribuan rumah tertimbun, korban meninggal dunia, da orang hilang, seperti yang terjadi di Kabupaten Sukabumi, Bandung beberapa waktu yang lalu.
Tidak ada yang tahu serta bisa memprediksi kapan bencana datang dan kenapa bisa terjadi di daerah kita. Semua terjadi atas kuasa Tuhan. Tapi setidaknya mari berkaca atas apa yang telah terjadi. Jika diibaratkan tanah mempunyai perasaan, mungkin banjir merupakan salah satu luapan emosinya karena kurang atau bahkan tidak ada resapan air yang bisa diserap oleh tanah. Begitupula dengan longsor. Mungkin tanah sudah tidak kuat menahan amarah ataupun kesedihan akibat berat yang terlalu berlebihan karena didera hujan yang terus-menerus.
Disadari atau tidak, kadangkala bencana bisa terjadi akibat ulah manusia sendiri. Coba kita renungkan dan perhatikan sekitar. Jika kita lihat sekeliling, sedikit sekali tanah yang tidak dimanipulasi oleh tangan manusia. Sebagian besar tanah sudah diaspal untuk jalan raya, dipaving, dicor dengan semen, dibangun perumahan, gedung, toko, dan sebagainya. Lebih miris lagi, hal tersebut hanya terjadi di kota besar saja, tetapi juga di desa. Jika kita menengok mundur beberapa puluh tahun lalu keadaan di desa akan muncul suasana masih asri dan sejuk. Tetapi sekarang hampir tidak ada bedanya dengan kota. Meskipun pembangunan yang terjadi di daerah desa mempunyai banyak keuntungan tapi seringkali manuisa lalai dan tidak memeprhatikan alam.
Lihatlah berapa banyak pohon rindang yang masih bisa kita temukan? pohon kayu sekarang sudah banyak berganti menjadi tiang beton. Apakah hutan masih rimbun dengan pohon-pohon yang hijau? Banyak hutan sekarang telah gundul bahkan menghitam karena terbakar.
Di indonesia saja yang merupakan salah satu jantung hutan di dunia sudah banyak kehilangan berjuta-juta pohon. Hutan banyak ditebang tanpa reboisasi atau malah dibakar untuk membuka lahan yang baru. Kebakaran hutan di Sumatra Utara, Riau, Jambi, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur sudah sering terjadi.
Asap pembakaran yang tidak hilang berhari-hari menimbulkan polusi dan penyakit bagi manusia dan hewan. Terlebih negara tetangga ikut terkena imbasnya. Mungkin bukan hanya negara tetangga saja, tetapi dunia juga terkena imbasnya. Jika hutan di Indonesia yang merupakan salah satu penyeimbang dan penyumbang oksigen dunia saja sudah mulai terkikis, bagaimana jika hal tersebut juga terjadi di negara-negara lain di dunia? Bukan tak mungkin lagi jika pemanasan global yang sudah terjadi ini akan semakin parah.
Salah satu hal lain yang seringkali luput oleh kita. Hal kecil tapi jika tidak dibiasakan akan menumbulkan bencana juga. Apakah sampah sudah tidak dibuang sembarangan? Belum bukan? Sampah masih berserakan dimana-mana. Terlebih lagi sampah plastik. Masih tidak banyak yang tahu kalau plastik sulit diuraikan oleh tanah.
Orang-orang masih saja membuang sampah seenaknya. Mereka membuang sampah di sungai, selokan, dan sebagainya yang bisa menghambat aliran air.mereka juga membakar atau menimbun sampah tanpa memilah sampah berdasarkan jenisnya sehingga tanah tidak dapat menguraikannya. Kalau sudah begini siapa juga yang dirugikan? Pada akhirnya manusia pula yang akan rugi. Berbagai penyebab diatas jika terjadi terus-menerus akan mengakibatkan perubahan iklim dunia. Kini tidak bisa lagi diprediksi kapan musim hujan, musim dingin, musim kemarau, dan musim-musim yang lain akan datang seperti dulu. Bahkan sekali hujan atau kemarau datang, akan timbul dalam waktu yang lama dan tentu saja akan berdampak pada penduduk bumi itu sendiri.
Maka dari itu kenapa tidak kita lakukan sekarang hal-hal yang bisa menyelamatkan kita sendiri dari bencana? Membuang sampah pada tempatnya, menanam pohon untuk reboisasi, tidak membuang limbah di laut atau sungai, dan sebagainya. Selain itu mari kita manfaatkan lebih baik lagi energi alami dari alam yang melimpah. Jika hari sudah terang, mari kita matikan lampu. Sinar matahari mampu membuat terang dan bahkan juga bisa membunuh kuman. tenga surya juga sudah banyak dikonversikan menjadi pembangkit listrik. Minyak bumi dan gas alam semakin hari semakin menipis jumlahnya. Maka mulai dari sekarang sebaiknya kita kurangi pemakaian kendaraan bermotor milik pribadi dengan bersepeda atau berjalan kai jika bepergian ke tempat yang dekat. Selain menyehatkan, hal tersebut juga menghemat bahan bakar minyak, dan mengurangi polusi.
Memasak dengan menggunakan gas alam pun juga sudah bisa dilakukan. Banyak hal lain yang bisa kita lakukan untuk menyayangi alam bumi kita. Alam akan bersahabat dan sayang dengan kita jika kita pun juga merawat dan melestarikan alam dengan baik. Sayangilah bumi demi anak cucu kita bisa merasakan apa yang kita lakukan mulai dari sekarang .
By: Uplukuthuk